Jelas tidak benar. Cinta adalah rasa saling memiliki, bukan menguasai. Sebagai pribadi merdeka, sang gadis tidak bisa dikuasai sehingga tidak harus mengikuti rambu-rambu yang dibuat sang pacar. Tapi banyak laki-laki yang merasa memiliki sang gadis sepenuhnya sehingga setiap beraktivitas harus meminta izin kepadanya terlebih dahulu. Dalam kasus tertentu banyak yang mengontrolnya secara ketat. Padahal orang tua sendiri sebagai “pemiliki sah” tidak berbuat demikian.
Kesalahan ini nampaknya berdampak serius, karena rasa memiliki yang berlebihan, akibatnya banyak tuntutan dan permintaan yang keluar dari jalur cinta. Cinta itu melindungi bukan merusak, kenyataanya bahkan banyak yang bersikap lebih jauh, ia meminta bukti cinta seolah tubuh si gadis layak diminta seperti halnya meminta makanan. Akibatnya, banyak gadis yang layu sebelum waktunya dan banyak pula yang akhirnya dicampakkan.
Itulah akibat rasa memiliki yang eksesit atau belebihan. Ironisnya, hal itu terjadi masa pacaran, masa yang dalam Islam sendiri tidak diakui. Masa khitbah saja seorang wanita tidak bisa dikuasai, dia adalah pribadi bebas yang berhak menentukan arah dirinya sendiri, kecuali setelah nikah nanti.
Rasa memiliki yang berlebihan akan melahirkan kecemburuan yang berlebihan pula. Akhirnya yang ada bukan cinta tapi nafsu amarah yang bersumber dari penyakit hati. Nah, bagaimana? Apakah pacar anda termasuk?
Belum ada tanggapan untuk "Cinta Bagai Penjara??"
Post a Comment
Silahkan di komen....